6723812323954065981

Dinas Peternakan Jabar Ingatkan Peternak untuk Mewaspadai Flu Burung dan Jalankan PHBS

Penulis : harapank - Sabtu, 4 Maret 2023 12:27 WIB - 84 Views
Seorang pegawai pemerintah memeriksa anak ayam untuk mencari tanda-tanda infeksi flu burung di sebuah peternakan unggas di Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, Kamis (2/32023). Dinas Peternakan Provinsi Aceh melakukan disinfektan, pemeriksaan kesehatan, dan monitoring ke sejumlah usaha peternak unggas dalam upaya pencegahan flu burung. (CHAIDEER MAHYUDDIN/AFP)

Liputan6.com, Bandung Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat (Jabar) menyatakan penyakit flu burung atau avian influenza (AI) yang terdeteksi di Kota Cirebon dan Kota Cimahi termasuk varian virus H5N1 yang relatif masih belum berbahaya.

Konfirmasi flu burung biasa ini diketahui lewat hasil dari laboratorium Balai Veteriner Subang yang kemudian dikirimkan ke Kementerian Kesehatan.

Meskit relatif tidak berbahaya, Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner DKPP Jawa Barat, Supriyanto, mengingatkan pihak terkait tetap waspada. Baik itu dari petugas kesehatan hewan, peternak unggas, maupun masyarakat untuk mengantisipasi paparan virus H5N1 clade 2.3.4.4b.

“Flu burung jenis baru sama saja dengan flu burung jenis lama karena sama-sama flu burung. Tapi tanggal 24 Februari kemarin, kita sudah nyebarin surat edaran ke kabupaten kota bagaimana untuk peningkatan kewaspadaan dan apa yang harus dilakukan dalam menyikapi hal itu,” ujar Supriyanto ditulis Bandung, Jumat, 3 Maret 2023.

Segera Lapor Bila Unggas Mati

Supriyanto mengimbau kepada seluruh kelompok masyarakat agar melaporkan kepada Dinas Peternakan setempat jika ada kejadian unggas mati mendadak dalam jumlah banyak.

Alasannya, kata Supriyanto, untuk mengantisipasi adanya penularan virus penyakit flu burung langsung kepada manusia. Meski saat ini potensi paparan virus H5N1 clade 2.3.4.4b terhadap manusia masih belum diketahui secara pasti dan ilmiah.

“Kalau karakteristik virus yang lama H5N1 clade 2.1.3 dan H5N1 clade 2.3.2 sudah kita pahami. Tapi yang terkait dengan clade 2.3.4.4b yang sedang heboh ini, kita belum tahu karakteristiknya, kita belum paham. Saya berharapnya belum ada di Jawa Barat,” kata Supriyanto.

Kasus di Cimahi dan Cirebon

Temuan di kasus paparan penyakit flu burung di Kota Cirebon dan Cimahi, disebabkan oleh varian virus yang terdahulu.

Provinsi Jawa Barat sendiri dikatakannya belum terbebas dari penyakit tersebut. Agar masyarakat terhindar dari penyakit flu burung yaitu menjalani pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

Karena pemicu suatu penyakit ucap Supriyanto, dipastikan ada mediumnya dan tidak akan serta merta terjadi paparan.

“Penyakit tidak akan datang dengan sekonyong-konyong, dengan ujug – ujug (tetiba), pasti ada yang membawanya seperti di barang yang kotor. Jadi pola hidup bersih dan sehat itu harus ditekankan agar mengantisipasi penyebaran flu burung di Jawa Barat,” tukas Supriyanto.

Sementara itu Kepala DKPP Jawa Barat, Arifin Soedjayana, peningkatan kewaspadaan ini bertujuan untuk menghindarkan kerugian ekonomi akibat kematian massal unggas.

Selain itu untuk memastikan kebutuhan daging unggas masyarakat cukup, serta penularan virus dari unggas ke manusia (zoonosis).

Arifin mengaku otoritasnya telah melakukan beberapa langkah untuk mencegah flu burung varian baru 2.3.4.4b.

“Kepada seluruh jajaran kesehatan hewan diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berkembangnya penyakit avian influenza ,” kata Arifin.

Langkah Cegah Flu Burung

DKPP Jawa Barat telah melakukan beberapa langkah untuk mencegah flu burung varian baru 2.3.4.4b dalam beberapa tahapan.

Pertama yaitu meningkatkan komunikasi, informasi, dan edukasi kepada masyarakat dan peternak unggas, agar segera melapor kepada petugas kesehatan hewan terdekat bila menemukan unggas sakit atau mati mendadak.

Kedua, jajaran kesehatan hewan segera merespons laporan masyarakat dengan prinsip’3 Cepat’ yakni Deteksi Cepat, Lapor Cepat, dan Respons Cepat, sesuai SOP pengendalian flu burung.

Ketiga, meningkatkan pembinaan dan pendampingan peternak untuk menerapkan tindakan biosekuriti guna mencegah masuk kuman penyakit ke peternakan unggas.

“Peternakan unggas komersial skala kecil dan menengah agar menerapkan Biosekuriti 3 Zona sebagai model percontohan bisekuriti sederhana, hemat, praktis dan efektif,” ucap Arifin.

Keempat, yakni melakukan pendampingan peternak untuk melakukan ‘Vaksinasi AI 3 Tepat’ yakni Tepat Vaksin, Tepat Program Ulangan, dan Tepat Teknik Vaksinasi.

Arifin menambahkan, vaksinasi AI pada itik dianjurkan menggunakan vaksin AI Subtipe H5N1 clade 2.3.2. Pada ayam petelur vaksin clade 2.1.3, atau clade 2.3.2, atau vaksin kombinasi clade 2.1.3 dan clade 2.3.2 produksi nasional.

Kelima, peningkatan pembinaan penerapan sanitasi pada sepanjang rantai pemasaran unggas guna memutus rantai penyebaran virus harus menjadi priotitas utama.

“Meminimalkan risiko penularan ke masyarakat umum,” ungkap Arifin.

Peternak Terapkan PHBS

Keenam, masyarakat peternak diimbau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti menggunakan masker saat menangani unggas hidup atau mati. Setelahnya mencuci tangan dan kaki dengan air dan sabun.

Langkah ketujuh, pengadaan anak ayam atau DOC ( Day Old Chick ) dihimbau berasal dari kompartemen breeding Farm yang telah memiliki sertifikat bebas flu burung.

Tahapan selanjutnya kata Arifin, berkoordinasi dengan dinas kesehatan kabupaten dan kota jika ditemukan masyarakat yang mengalami gejala mirip flu di sekitar tempat kejadian kasus yang diduga AI.

Sumber : https://www.liputan6.com

Related Posts

Rekomendasi